
Pengrajin Bonggol Kayu Jati Saradan – Madiun
Oleh :
Susy Diyaningsih, S.Sos.
MADIUN, 10 Februari 2009
Bagi kebanyakan orang, bonggol kayu atau sisa tebangan pohon kayu jati merupakan limbah yang tidak berguna. Tetapi bagi Bp. Didik dan saudara-saudaranya, warga Desa Kaligunting, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, bonggol kayu justru menjadikan mereka sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang cukup mapan.
“Meski sejak beberapa tahun yang lalu tempat tinggal mereka berada di perkampungan sekitar hutan Jati Saradan, tetapi ide menjadikan bonggol kayu agar lebih bermanfaat, lebih bernilai dan bernilai lebih serta mendapatkan uang, baru terbersit sejak 3 tahun yang lalu. Saat itu ide kreatif Bp. Didik mulai muncul ketika melihat bonggol kayu jati yang oleh warga sekitar hanya dijadikan kayu bakar.
“Saat itu muncul dalam benak saya untuk menjadikan bonggol kayu dari pohon kayu jati yang telah ditebang oleh Perhutani menjadi barang yang lebih berharga seperti meja tamu, meja makan, meja bar, dan berbagai karya seni lainnya. Selain memiliki nilai artistik, juga tidak terlalu sulit membuatnya. Dan juga melihat keberhasilan pengrajin serupa di daerah Blora dan Bojonegoro,” kata Bp. Didik mulai bercerita.
Dengan sedikit pahatan di bagian bawah dan kertas gosok untuk menghaluskan serta pewarna pelitur, maka jadilah bonggol kayu jati itu sebagai karya seni yang indah, artistik dan kokoh. “Saat sudah jadi, meja tersebut ditawar oleh tetangga saya dengan harga yang lumayan, ya saya lepas saja. Sejak itu saya bersama saudara menjadikan bonggol kayu jati sebagai usaha yang digeluti,” jelas Bp. Didik saat ditemui di tempat usahanya desa Kaligunting, Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun, di Jl. Madiun-Surabaya, awal pekan lalu.
Ide-ide terus muncul. Setelah membuat beberapa pasang mebel, yang terdiri atas kursi tamu lengkap dengan meja yang semuanya terbuat dari bonggol kayu jati, Bp. Didik terus mengembangkan kreasinya. Dari limbah itu pula, Bp. Didik mulai menciptakan ukiran, hiasan dinding, suvenir, berbagai replika binatang, kap lampu, dan masih banyak lagi.
Karena ruang usaha “terbuka” itu dibangun tepat di jalur pinggir jalan propinsi Madiun-Surabaya yang merupakan jalur Selatan transportasi pulau Jawa, maka tidak heran banyak pengunjung yang datang, termasuk juga para turis yang sedang berlibur. Karena banyaknya kunjungan para turis mancanegara itulah membuat usaha milik Bp. Didik ini telah melakukan ekspor mebel dan berbagai suvenir dari bonggol kayu ke luar negeri, di antaranya Jepang, Saudi Arabia, Jepang, Prancis dan Belanda.
“Para turis memang awalnya melihat-lihat barang-barang kami karena keunikan dan nilai artistiknya. Kalau tertarik, mereka langsung membeli atau memesan barang yang diinginkan,” tambahnya.
Tenaga Kerja
Kalau barang tersebut berupa suvenir atau barang-barang yang berukuran kecil, biasanya langsung dibawa dan diusung oleh biro perjalanan mereka. Tetapi jika barang tersebut dalam bentuk dan jumlah yang besar, akan dikirimkan sebagai barang ekspor. “Kami tidak melakukan ekspor sendiri, tetapi melalui jasa para agen eksportir dengan cara bayar di muka,” kata bapak dua anak ini.
Sedangkan pesanan dari berbagai daerah juga terus mengalir, mulai dari Bali, Yogyakarta, Magelang, Malang, Surabaya, Jakarta, Sumatra dan Kalimantan. Kalau pelanggan pesan satu set mebel waktunya memang cukup lama, bisa sampai satu bulan atau lebih. Sebab Bp. Didik harus menyesuaikan bonggol kayu dengan model yang dipesan. Biasanya bentuk satu barang dengan barang yang lain tidak sama karena setiap batang bahan akar jati memiliki besar dan struktur yang berlainan. Disinilah letak keunikannya.
“Bonggol kayu jati ini asli, bulan tambalan. Karena itu, kami harus menyesuaikan dengan pesanan. Kalau memang didaerah Caruban tidak kita temukan bonggol kayu sesuai dengan pesanan pelanggan, terpaksa kami harus mencari ke wilayah Blora, Cepu dan Wilayah Nganjuk,” tandasnya.
Sejak tahun 2007 lalu, usaha yang digeluti oleh Bp. Didik semakin berkembang. Pesanan yang semakin besar membuat dirinya harus mengambil tenaga dari luar keluarganya. Kalau pesanan sedang banyak, dia akan menambah tenaga sampai dengan 20 orang. Mereka terbagi menjadi tenaga ukir, finishing/penghalusan, pelitur dan packaging.
“Untuk tenaga ukir biasanya kita bayar borongan sesuai dengan tingkat kesulitan ukiran. Sedangkan untuk tenaga diluar ukir, kita beri honor Rp 18.000/hari,” ungkapnya.
Hasil karya Bp. Didik dan keluarganya ini dijual dengan harga yang bervariasi. Untuk mebel yang terdiri atas satu meja, satu sofa besar dan dua sofa kecil, dipatok mulai harga Rp 3,5 juta. Sedangkan untuk suvenir dan hiasan dinding dijual mulai harga Rp 15 ribu hingga Rp 7,5 juta.
“Hiasan dinding yang paling mahal adalah relief dari akar kayu utuh ukuran besar. Sebab untuk mengerjakan pahatan ini dibutuhkan waktu yang cukup lama, selain bahan baku yang berukuran besar, juga tingkat kesulitannya juga sangat tinggi, bisa sampai satu atau dua bulan,” ucapnya.
Perum Perhutani
Karena usahanya berbahan baku limbah kayu jati sisa tebangan, membuat pihak Perhutani terpanggil untuk membina para pengusaha bonggol kayu ini. Perhutani juga sangat jeli dengan memberikan bantuan murni berupa mesin pembangkit listrik, alat penghalus tenaga listrik serta peralatan ukir. Kalau dulu Bp. Didik dan saudaranya menggunakan ampelas biasa, kini mereka sudah lebih maju yakni menggunakan ampelas listrik, ketam listrik dan gergaji mesin.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Itu berarti pihak Perhutani ikut memperhatikan usaha kami agar lebih maju lagi dan sebagai mitra bagi masyarakat sekitar hutan,” tandasnya.
Meskipun demikian, ada pesan khusus pada para pengusaha kerajinan bonggol kayu ini, yakni hanya boleh memanfaatkan bonggol kayu sisa tebangan. Mereka dilarang melakukan penebangan kayu sendiri secara liar.
“Kami juga diberi pembinaan menjaga hutan dengan baik, seperti jangan sampai merokok saat berada di hutan, jangan sampai ada percikan api di hutan khususnya di musim kemarau seperti ini, agar hutan tidak terbakar,” tukasnya.
Bp. Didik mengaku sebelumnya ia bekerja sebagai pedagang pangkalan minyak tanah di wilayah Caruban. Tapi karena ada program pemerintah untuk konversi minyak tanah ke gas elpiji, maka sedikit demi sedikit pasokan minyak tanah mulai dikurangi dan prospek jangka panjangnya juga masih tidak menentu. Tetapi setelah menemukan usaha mengolah bonggol kayu jati ini, sedikit demi sedikit mulai kelihatan hasilnya dan bisa menjadikan sumber pendapatan bagi keluarga dan memberikan contoh yang positif bagi penduduk sekitar agar bisa memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
“Mengapa harus jauh-jauh bekerja dan berusaha, kalau usaha ini hasilnya sudah sangat besar untuk ukuran kami. Jika teman-teman di daerah memiliki usaha-usaha sendiri seperti ini, saya yakin mereka tidak akan tertarik lagi bekerja di kota atau luar pulau,” paparnya.
Karena saat ini sudah ada beberapa pengrajin serupa di wilayah Saradan, Caruban dan sekitarnya, maka pihak Perhutani merasa terpanggil menjadikan mereka sebagai mitra binaan dari Perum Perhutani KPH Saradan. Hal ini memudahkan dalam pengawasan dan memberikan penyuluhan terhadap kelompok mitra binaan ini.
Harapan kedepan dari anggota mitra binaan ini adalah agar Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun membantu dalam hal pengadaan bahan baku dan pemasaran agar hasil karya mereka dapat terus berkembang dan bisa dijadikan produk andalan dari Kabupaten Madiun. Disamping dapat menyerap banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitar hutan sehingga akan menekan angka pengangguran yang pada akhirnya akan memperkecil tingkat kriminalitas dan agar mereka juga bisa menikmati hasil dari limbah tebangan ini.
Hutan Jati di Kabupaten Madiun
KALAU kita memasuki wilayah Kabupaten Madiun dari arah Timur (Surabaya), kita disambut oleh pohon jati berdiameter besar yang tampak tumbuh teratur. Jarak satu sama lain tanaman keras berdaun lebar ini begitu dekat seakan tidak memberi sang mentari menembus celah-celah dedaunan. Deretan hijau daun memberi kesejukan, mengisyaratkan alam yang sesungguhnya. Inilah salah satu potret kekayaan bumi Kabupaten Madiun, hutan yang tersebar di 11 kecamatan.
Bukan angka yang kecil jika hampir 40 persen dari luas wilayah merupakan kawasan hutan. Namun, dominannya sektor kehutanan tidak turut mendominasi kontribusi kehutanan terhadap total nilai ekonomi yang 2,71 persen atau setara Rp 47 milyar. Padahal, potensi kehutanan sesungguhnya sangat besar, terdiri dari 37.467 hektar hutan negara dan kurang dari satu persen hutan rakyat. Dari luas ini, lebih dari tiga perempat hutan yang dikelola PT Perhutani adalah hutan produksi.
Tidak sedikit industri yang menggeluti bidang kayu olahan. Setidaknya terdapat 67 unit usaha yang menyerap 614 tenaga kerja. Namun, pengolahan baru sebatas pembuatan kusen dan mebel. Kerajinan gembol yang memanfaatkan pangkal batang atau akar pohon jati yang diukir, diamplas menjadi kursi, meja atau hiasan bernuansa alami yang nilainya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah yang meski sudah ditekuni sebagian penduduk sekitar hutan, tapi belum banyak berkembang.
Apabila dirunut, nilai ekonomi hutan yang mayoritas ditanami jati sangat menjanjikan. Mentahnya saja bernilai jual tinggi. Kayu yang dipasarkan dalam bentuk gelondongan ini dilelang antara lain di Surabaya, Madiun, Malang, Solo, dan Jombang, langsung atau dengan sistem kontrak. Lain lagi hutan rakyat yang jangkauan pemasarannya meliputi Yogyakarta, Jepara, Solo, dan Semarang.
Kehutanan bukan andalan sektor pertanian. Dari tahun ke tahun penyangga utama perekonomian bertumpu pada tanaman bahan pangan, yaitu padi. Besarnya produksi padi menjadikan daerah ini lumbung pangan Jawa Timur wilayah barat selain Ngawi, Bojonegoro dan Ponorogo. Selama lima tahun (1997-2001) produksi padi Kabupaten Madiun rata-rata 324.598 ton. Jumlah ini lebih dari cukup dalam memenuhi kebutuhan beras lokal 85.405 ton tahun 2002. Beras yang berlimpah ini sebagian didistribusikan ke Kalimantan, Bali, Banyuwangi, Jember, dan Karesidenan Kediri.
Tak sesubur lahan pertanian, tak satu pun industri besar ditemukan di Kabupaten Madiun. Padahal letak wilayah ini strategis, di jalur persimpangan antara Jakarta, Solo-Surabaya, Pacitan, Ponorogo-Surabaya, Magetan-Surabaya. Infrastruktur cukup kondusif dengan 3.897 kilometer panjang jalan dan hanya sekitar 5,7 persen dalam kondisi buruk. Ketersediaan bahan baku dari hasil pertanian jelas sudah ada. Sektor perdagangan terdiri dari 16 pasar milik pemerintah dan 36 pasar desa didukung 23 pedagang besar, 121 pedagang menengah, dan 1.738 pedagang kecil. Tak hanya itu, kemudahan perizinan berinvestasi juga ditawarkan. Apa penyebabnya pemerintah daerah setempat juga belum tahu jawabnya. Yang pasti mereka menunggu kedatangan investor yang siap mengolah hasil pertanian kabupaten yang berlimpah.
Kehidupan Masyarakat Sekitar Hutan di BKPH Caruban, KPH Madiun
Siang itu, Supriyadi (41), sibuk membelah potongan-potongan kayu berukuran kecil dan sedang di halaman rumahnya. Tak jauh dari tempat itu, terlihat ranting-ranting pohon jati juga terlihat berserakan dan sebagian menumpuk di samping rumah. Potongan kayu dengan diameter 4-5 centimeter dengan panjang antara 2-3 meter itu dibelah menggunakan kapak yang dia ayunkan berkali-kali dari dua tangannya.
Peluh keringat pun terlihat menetes di wajah dan sekujur tubuh bapak paruh baya ini. Kayu yang telah dibelah dengan ukuran-ukuran tertentu itu kemudian ditata sedemikian rupa dan siap untuk dijual. Kayu-kayu itulah yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan kayu rencek.
Setiap hari, mereka mencari kayu dan ranting yang jatuh dari pohon jati di tengah hutan kawasan BKPH Caruban, KPH Madiun, kemudian dibawa pulang untuk dijadikan kayu rencek. Untuk menuju ke kedalaman hutan itu juga tidak mudah. Mereka harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda ontel sekitar 5-6 kilometer. Itupun medan yang dilalui ditengah hutan cukup berat, berliku-liku dan naik turun daerah perbukitan.
Saya sudah puluhan tahun menjalani pekerjaan ini. Mau kerja apalagi tinggal di sekitar hutan seperti ini apa-apa sulit. Kalau bercocok tanam pun hanya bisa mengandalkan pada saat musim penghujan. Sedangkan pada saat musim kemarau air sulit sekali didapatkan,” ujar Supriyadi.
Mencari kayu rencek selama ini menjadi mata pencaharian utama warga sekitar hutan. “Ya hampir 80% warga tamping (sekitar hutan,red) ini bekerja sebagai tukang kayu rencek.
Sebetulnya, warga sekitar hutan yang biasa disebut masyarakat Tamping ini diberi hak mengelola lahan di kawasan hutan oleh Perhutani melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Tapi, masyarakat sekitar hutan merasa sangat kesulitan bercocok tanam di lahan hutan itu.
Selain pengairannya cukup sulit, berbagai tanaman palawija seperti jagung, kedelai, dan kacang tidak bisa tumbuh subur saat ditanam. Selain menanam tanaman model tumpangsari, warga juga diberi tanggungjawab untuk merawat tegakkan pohon jati di lahan itu. Nantinya jika pohon jati sudah ditebang warga mendapatkan bagi hasil (sharing) produksi tebangan. Tapi, dalam kenyataannya untuk bercocok tanam dan merawat pohon jati itu juga tidak mudah.
Kalau mereka mengambil kayu dari hutan yang tidak sesuai ketentuan sering dianggap telah melakukan tindak pencurian kayu di hutan. Akibatnya pun tak tanggung-tanggung mereka harus berurusan dengan hukum.
Yang lebih mengenaskan lagi, selain kondisi ekonomi yang serba sulit, masyarakat sekitar hutan juga tidak mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang memadai. Banyak anak-anak usia sekolah di sekitar hutan ini yang hanya lulus sekolah sampai tingkat SMP.
Menurut Kepala Dusun Kedungdawuh, Desa Wonorejo, Sarwo, sekitar 80% warga desa Wonorejo tidak memiliki lahan untuk bertani. Akibatnya, mereka hanya sebagai buruh tani dan penjual kayu rencek.
“Seolah masyarakat sekitar hutan (tamping,red) selalu disisihkan. Mereka harus bertahan hidup dan menghadapi berbagai kesulitan sendirian,” ungkapnya. (Muhammad Roqib/Sindo/fit)





Recent Comments